December 7, 2011

Mprof juga manusia

Email pagi ini dari si Mprof:

“Doktoranden saya yang tercinta, saya akan senang sekali kalau setelah kolloquium kita bisa bersama-sama pergi ke suatu tempat. Saya ingin menraktir Anda makan. Jadi, tolong luangkan waktu Anda untuk itu.” - Mprof.

Saya (senyum-senyum sambil berpikir): si Mprof sedang kesambet apa ya? Setelah semester resmi berpisah dari “pasangan”nya tiba-tiba dia jadi berubah baik dan penuh perhatian pada “anak-anaknya” yang langsung tidak langsung jadi “korban” sering bentroknya mereka atau kayaknya dia sedang kena pengaruh suasana Natal atau dia baru dapat lotere atau sedang dapat deadline dari proyek barunya yang harus selesai Januari tahun depan, jadi dia stress juga sama seperti kami sehingga perlu pengalihan sejenak (lalu menulis email balasan: “ya, saya ada waktu.”).

Di kelas:

Mprof: “kita ke mana ya nanti?” (sambil melihat-lihat buku telefon untuk memesan tempat di salah satu restoran)

Kami: (lihat-lihatan lalu senyum-senyum penuh arti: “serius nih?!”) “di mana saja, terserah.”

Di sebuah restoran setelah acara makan dan ngobrol-ngobrol serta tertawa-tawa:

Saya (yang suka ingin tahu aja): “Kenapa Anda “berpisah” dari mProf B.?”

Mprof: “Tidak cocok saja” (sambil lanjut bicara tentang sepak bola)

Saya: (mengangguk-angguk dan mesem-mesem)

Di jalan saat berpamitan:

Mprof: “Tampaknya kita harus sering-sering bertemu dan kumpul-kumpul untuk ngobrol seperti tadi ya.”

Kami (mengangguk-angguk sambil senyum-senyum): “iya, ide bagus.”

Saya (yang juga masih suka penasaran dan suka iseng tanya): “Kenapa tidak dari dulu Anda membuat acara seperti ini?”

Mprof (pura-pura tidak mendengar): “Pokoknya harus lebih sering. Saya senang sekali tadi bisa ngobrol-ngobrol santai.”

Kami: (senyum-senyum lagi sambil kedinginan)

Situasi kadang membaik dengan sendirinya, tanpa disangka-sangka, dan tanpa perlu diusahakan. Atau sepertinya doa kami semua dikabulkan: mProf juga manusia ;))